Susunan Makalah Mahasiswa [Lengkap]

Posted on

Makalah merupakan makanan sehari – hari bagi para pelajar maupun mahasiswa. Bagi kamu yang baru masuk bangku SMA atau perkuliahan pasti masih bingung bagaimana cara membuat makalah yang baik dan benar. Padahal tugas – tugas makalah sudah menumpuk dari berbagai mata pelajaran.

Banyak pula pelajar dan mahasiswa yang sudah sering membuat contoh makalah namun belum mengerti bagaimana makalah yang baik dan benar sesuai dengan kaidah penulisan. Padahal semua dituntut untuk membuat makalah yang sempurna sesuai aturan.

Artikel Terkait : Penyebab Kanker Secara Umum [Lengkap]

PENGERTIAN MAKALAH
Menurut KBBI ( Kamus Besar Bahasa Indonesia) makalah adalah tulisan resmi mengenai suatu pokok bahasan yang disusun untuk dibacakan dimuka umum dalam suatu persidangan dan biasanya sering diterbitkan.
Berikut adalah contoh daru makalah mahasiwa yang bisa anda jadikan referensi untuk pembuatan makalah anda.

PENULISAN HURUF KAPITAL, MIRING, TEBAL, SINGKATAN – AKRONIM LAMBANG BILANGAN
MAKALAH

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia
yang diampu oleh Dian Risdiawati, M.Pd.

Disusun oleh :
1. Anandita Marwa Aulia
2. Devi Sabrina Azmi
3. Indah Pranataning Tyas
4. Lucky Mey Wandani

PROGRAM STUDI BAHASA INGGRIS
JURUSAN ADMINISTRASI BISNIS
POLITEKNIK NEGERI MADIUN
SEPTEMBER 2018

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat rahmat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik tanpa kekurangan suatu apapun.

Semoga makalah ini dapat berguna dan juga bermanfaat serta menambah wawasan tentang pengetahuan penulisan huruf yang baik dan benar dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUBEI). Dalam pembuatan makalah ini pasti masih banyak terdapat kekurangan dan masih membutuhkan kritik, saran dan perbaikan, oleh karena itu jika ada kritik dan saran akan sangat membantu dalam perbaikan makalah ini.

Dalam proses pendalaman materi ini, tentunya tidak lepas dari arahan, koreksi, dan saran, untuk itu rasa terima kasih saya sampaikan kepada :

  1. Dian Risdiawati, M.Pd, selaku dosen mata kuliah “ Bahasa Indonesia”
  2. Rekan – rekan mahasiswa yang telah banyak memberikan kritik dan saran

Demikianlah makalah ini saya buat semoga bermanfaat.

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………… 1
A. Latar Belakang………………………………………………………. 1
B. Rumusan Masalah…………………………………………………. 2
BAB II PEMBAHASAN……………………………………………….. 3
A. Huruf Kapital…………………………………………………………. 3
B. Huruf Miring………………………………………………………… 12
C. Huruf Tebal………………………………………………………….. 14
D. Penulisan Akronim – Singkatan……………………………. 15
E. Penulisan Bilangan……………………………………………….. 19
BAB III PENUTUP…………………………………………………….. 23
A. KESIMPULAN………………………………………………………… 23
B. SARAN………………………………………………………………….. 23
DAFTAR RUJUKAN…………………………………………………….. 24

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi yang digunakan manusia. Bahasa berisi pikiran, keinginan atau perasaan yang ada pada diri si pembicara atau penulis, bahasa yang digunakan itu hendaklah dapat mendukung maksud secara jelas agar apa yang dipikirkan, diinginkan atau dirasakan itu dapat diterima oleh pendengar atau pembaca.

Ejaan yang disempurnakan atau yang lebih dikenal dengan singkatan EYD. EYD adalah rangkaian aturan yang wajib digunakan dan ditaati dalam tulisan Bahasa Indonesia resmi. Eyd mencakup pengggunaan dalam penggunaan huruf kapital, miring, tebal, singkatan akronim ,dan lambang bilangan.

Kemudian pemerintah pendidikan dan kebudayaan mengeluarkan Peraturan Permendikbud NO 50 tahun 2015 tentang pedoman Umum Ejaan Bahas Indonesia, yaitu: Pasal 1 (1) Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia dipergunakan bagi instansi pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar.

Artikel Terkait : Cara Membuat Aquascape Sederhana Dengan Murah

Dengan dikeluarkannya keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan tersebut. Maka PUEBI resmi menggantikan EYD, tetapi bukan hanya menggantikan secara keseluruhan. Melainkan mengganti secara keseluruhan melainkan ada tambahan pada unsur tertentu saja.

Alasan mengapa yang dipakai sekarang adalah PUEBI karena semakin sedikitnya pemakai kata kata yang ada dalam EYD dan adanya perkembangan bahasa dari aspek tertentu yang ada di masyarakat sesuai dengan perkembangan zaman. Namun pada dasarnya pemakaian PUEBI tetap memakai kaidah EYD.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana penulisan huruf kapital, huruf miring, singkatan – akronim, dan lambang bilangan?
2. Bagaimana fungsi masing- masing huruf kapital, huruf miring, singkatan – akronim dan lambang bilangan?
3. Apa saja contoh dari penulisan huruf kapital, huruf miring, singkatan – akronim, dan lambang bilangan?

BAB II
PEMBAHASAN

Berikut adalah pedoman penulisan tanda baca sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

A. Huruf Kapital
Huruf kapital merupakan huruf yang berukuran dan berbentuk khusus (lebih besar dari huruf biasa), biasanya digunakan sebagai huruf pertama dari kata pertama dalam kalimat, huruf pertama nama diri, dan sebagainya.

1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama awal kalimat.
Misalnya:
a.) Apa maksudnya?
b.) Dia membaca buku.
c.) Kita harus bekerja keras.
d.) Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam.

2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama orang, termasuk julukan.
Misalnya:
a.) Amir Hamzah
b.) Dewi Sartika
c.) Halim Perdanakusumah
d.) Wage Rudolf Supratman

3. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang merupakan nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya :
a.) ikan mujair
b.) mesin diesel
c.) 5 ampere
d.) 10 volt

4. Huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata yang bermakna ‘anak dari’, seperti bin, binti, boru, dan van, atau huruf pertama kata tugas.
Misalnya:
a.) Abdul Rahman bin Zaini
b.) Siti Fatimah binti Salim
c.) Indani boru Sitanggang
d.) Charles Adriaan van Ophuijsen
e.) Ayam Jantan dari Timur

PUEBI 2015 menambahkan (1) penjelasan “termasuk julukan” pada I.F.2., misalnya Jendral Kancil dan Dewa Pedang; serta (2) penjelasan “yang bermakna ‘anak dari'” pada catatan kedua. Kedua tambahan ini tampaknya bertujuan untuk memperjelas pedoman sebelumnya

5. Huruf kapital dipakai pada awal kalimat dalam petikan langsung.
Misalnya:
a.) Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
b.) Orang itu menasihati anaknya, “Berhati-hatilah, Nak!”
c.) “Mereka berhasil meraih medali emas,” katanya.
d.) “Besok pagi,” katanya, “mereka akan berangkat.”

6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata nama agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
a.) Alquran
b.) Alkitab
c.) Hindu
d.) Allah
e.) Tuhan
f.) Allah akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.
g.) Ya, Tuhan, bimbinglah hamba-Mu ke jalan yang Engkau beri rahmat.

Baca Juga :  Spesifikasi dan Harga iPhone 7 Terbaru

7. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, atau akademik yang diikuti nama orang, termasuk gelar akademik yang mengikuti nama orang.
Misalnya:
a.) Sultan Hasanuddin
b.) Haji Agus Salim
c.) Imam Hambali
d.) Nabi Ibrahim
e.) Raden Ajeng Kartini
f.) Doktor Mohammad Hatta
g.) Agung Permana, Sarjana Hukum

8. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, profesi, serta nama jabatan dan kepangkatan yang dipakai sebagai sapaan.
Misalnya:
a.) Selamat datang, Yang Mulia.
b.) Terima kasih , Kiai.
c.) Selamat pagi, Dokter.
d.) Silakan duduk, Prof.

9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
a.) Wakil Presiden Adam Malik
b.) Perdana Menteri Nehru
c.) Profesor Supomo
d.) Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara
e.) Proklamator Republik Indonesia (Soekarno-Hatta)
f.) Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
g.) Gubernur Papua Barat

10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Misalnya:
a.) bangsa Indonesia
b.) suku Dani
c.) bahasa Bali
Nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan tidak ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
a.) pengindonesiaan kata asing
b.) keinggris-inggrisan
c.) kejawa-jawaan

11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari besar atau hari raya.
Misalnya:
a.) tahun Hijriah
b.) tarikh Masehi
c.) bulan Agustus
d.) bulan Maulid
e.) hari Jumat

12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama peristiwa sejarah.
Misalnya:
a.) Konferensi Asia Afrika
b.) Perang Dunia II
c.) Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

13. Huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama tidak ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:
a.) Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.
b.) Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.

14. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:
a.) Jakarta
b.) Asia Tenggara
c.) Pulau Miangas
d.) Amerika Serikat
e.) Bukit Barisan
f.) Jawa Barat
g.) Dataran Tinggi Dieng
h.) Danau Toba
i.) Jalan Sulawesi
j.) Gunung Semeru
k.) Ngarai Sianok
l.) Jazirah Arab
m.) Selat Lombok
n.) Lembah Baliem
o.) Sungai Musi
p.) Pegunungan Himalaya
q.) Teluk Benggala
r.) Tanjung Harapan
s.) Terusan Suez
t.) Kecamatan Cicadas
u.) Gang Kelinci
v.) Kelurahan Rawamangun

15. Huruf pertama nama geografi yang bukan nama diri tidak ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya :
a.) berlayar ke teluk mandi di sungai
b.) menyeberangi selat berenang di danau

16. Huruf pertama nama diri geografi yang dipakai sebagai nama jenis tidak ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya :
a.) jeruk bali (Citrus maxima)
b.) kacang bogor (Voandzeia subterranea)
c.) nangka belanda (Anona muricata)
d.) petai cina (Leucaena glauca)

17. Nama yang disertai nama geografi dan merupakan nama jenis dapat dikontraskan atau disejajarkan dengan nama jenis lain dalam kelompoknya.
Misalnya :
a.) Kita mengenal berbagai macam gula, seperti gula jawa, gula pasir, gula tebu, gula aren, dan gula anggur. Kunci inggris, kunci tolak, dan kunci ring mempunyai fungsi yang berbeda.

18. Contoh berikut bukan nama jenis.
a.) Dia mengoleksi batik Cirebon, batik Pekalongan, batik Solo, batik Yogyakarta, dan batik Madura.
b.) Selain film Hongkong, juga akan diputar film India, film Korea, dan film Jepang.
c.) Murid-murid sekolah dasar itu menampilkan tarian Sumatra Selatan, tarian Kalimantan Timur, dan tarian Sulawesi Selatan.

PUEBI 2015 menambahkan cara pembedaan unsur nama geografi yang menjadi bagian nama diri (proper name) dan nama jenis (common name).

19. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur bentuk ulang sempurna) dalam nama negara, lembaga, badan, organisasi, atau dokumen, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk.
Misalnya :
a.) Republik Indonesia
b.) Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
c.) Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia
d.) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2010 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pidato Presiden dan/atau Wakil Presiden serta Pejabat Lainnya
e.) Perserikatan Bangsa-Bangsa
f.) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

20. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur kata ulangsempurna) di dalam judul buku, karangan, artikel, dan makalah serta nama majalah dan surat kabar, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk, yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
a.) Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
b.) Tulisan itu dimuat dalam majalah Bahasa dan Sastra.
c.) Dia agen surat kabar Sinar Pembangunan.
d.) Ia menyajikan makalah “Penerapan Asas-Asas Hukum Perdata”.

21. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, atau sapaan.
Misalnya:
a.) S.H. = sarjana hukum
b.) S.K.M. = sarjana kesehatan masyarakat
c.) S.S. = sarjana sastra
d.) M.A. = master of arts
e.) M.Hum. = magister humaniora
f.) M.Si. = magister sains
g.) K.H. = kiai haji
h.) Hj. = hajah
i.) Pdt. = pendeta
j.) R.A. = raden ayu
k.) Tb. = tubagus
l.) Dr. = doktor
m.) Prof. = profesor
n.) Tn. = tuan
Catatan : PUEBI 2015 menambahkan contoh gelar lokal Daeng dan Datuk.

22. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, kakak, adik, dan paman, serta kata atau ungkapan lain yang dipakai dalam penyapaan atau pengacuan.
Misalnya:
a.) “Kapan Bapak berangkat?” tanya Hasan. Dendi bertanya, “Itu apa, Bu?”
b.) “Silakan duduk, Dik!” kata orang itu.
c.) Surat Saudara telah kami terima dengan baik.
d.) “Hai, Kutu Buku, sedang membaca apa?”
e.) “Bu, saya sudah melaporkan hal ini kepada Bapak.”Catatan
PUEBI 2015 menambahkan penjelasan penulisan kata atau ungkapan lain yang digunakan sebagai penyapaan ditulis dengan huruf kapital, misalnya Kutu Buku.

23. Istilah kekerabatan berikut bukan merupakan penyapaan atau pengacuan.
Misalnya:
a.) Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
b.) Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

Baca Juga :  Tahapan Metamorfosis Pada Katak

24. Kata ganti Anda ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
a.) Sudahkah Anda tahu?
b.) Siapa nama Anda?

B. Huruf Miring

Huruf miring dipakai untuk menuliskan judul buku, nama majalah, atau nama surat kabar yang dikutip dalam tulisan, termasuk dalam daftar pustaka.

Misalnya:
1. Saya sudah membaca buku Salah Asuhan karangan Abdoel Moeis.
2. Majalah Poedjangga Baroe menggelorakan semangat kebangsaan.
3. Berita itu muncul dalam surat kabar Cakrawala.
4. Pusat Bahasa. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Edisi Keempat (Cetakan Kedua). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Fungsi huruf miring :
1. Huruf miring dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata,kata, atau kelompok kata dalam kalimat.
Misalnya:
a.) Huruf terakhir kata abad adalah d.
b.) Dia tidak diantar, tetapi mengantar.
c.) Dalam bab ini tid`ak dibahas pemakaian tanda baca.
d.) Buatlah kalimat dengan menggunakan ungkapan lepas tangan.

2. Huruf miring dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa daerah atau bahasa asing.
Misalnya:
a.) Upacara peusijuek (tepung tawar) menarik perhatian wisatawan asing yang berkunjung ke Aceh.
b.) Nama ilmiah buah manggis ialah Garcinia mangostana.
c.) Weltanschauung bermakna ‘pandangan dunia’.
d.) Ungkapan bhinneka tunggal ika dijadikan semboyan negara Indonesia.

3. Nama diri, seperti nama orang, lembaga, atau organisasi, dalam bahasa asing atau bahasa daerah tidak ditulis dengan huruf miring.
a.) Dalam naskah tulisan tangan atau mesin tik (bukan komputer), bagian yang akan dicetak miring ditandai dengan garis bawah.
b.) Kalimat atau teks berbahasa asing atau berbahasa daerah yang dikutip secara langsung dalam teks berbahasa Indonesia ditulis dengan huruf miring.

PUEBI 2015 menggunakan frasa bahasa daerah atau bahasa asing, sedangkan pedoman ejaan sebelumnya memakai frasa bukan bahasa Indonesia. PUEBI 2015 menambahkan catatan bahwa nama diri dalam bahasa asing atau bahasa daerah tidak ditulis dengan huruf miring.

C. Huruf Tebal

Huruf tebal adalah huruf yang lebih tebal atau jarak yang lebih besar daripada huruf pada umumnya.

Misalnya :
1. Huruf tebal dipakai untuk menegaskan bagian tulisan yang sudah ditulis miring.
2. Huruf dh, seperti pada kata Ramadhan, tidak terdapat dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
3. Kata et dalam ungkapan ora et labora berarti ‘dan’.

PUEBI 2015 menambahkan klausul ini. Huruf tebal tidak dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata dalam kalimat. Untuk tujuan ini, gunakan huruf miring. Huruf tebal dapat dipakai untuk menegaskan bagian-bagian karangan, seperti judul buku, bab, atau subbab.

Huruf tebal dapat di pakai untuk menegaskan bagian – bagian karangan seperti judul buku, bab, atau subbab.
Misalnya:
1.1 Latar Belakang Dan Masalah
1.1.1 Latar Belakang
1.1.2 Masalah
1.2 Tujuan

D. Penulisan Akronim – Singkatan

Singkatan dan akronim adalah kependekan dari kata. Perbedaan dari singkatan dan akronim adalah bentuk singkatan dilafalkan huruf per huruf, sedangkan akronim dilafalkan huruf per huruf, sedangkan akronim di lafalkan sebagai suku kata.

1. Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik pada setiap unsur singkatan itu.
Misalnya:
a.) A.H. Nasution = Abdul Haris Nasution
b.) W.R. Supratman = Wage Rudolf Supratman
c.) M.B.A. = master of business administration
d.) M.Hum. = magister humaniora
e.) S.E. = sarjana ekonomi
f.) S.Kom. = sarjana komunikasi
g.) S.K.M. = sarjana kesehatan masyarakat
h.) Sdr. = saudara
i.) Kol. Darmawati = Kolonel Darmawati

2. Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata nama lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, lembaga pendidikan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.
Misalnya:
a.) NKRI = Negara Kesatuan Republik Indonesia
b.) UI = Universitas Indonesia
c.) PBB = Perserikatan Bangsa-Bangsa
d.) WHO = World Health Organization
e.) PGRI = Persatuan Guru Republik Indonesia
f.) KUHP = Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

3. Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata yang bukan nama diri ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.
Misalnya:
a.) PT = Perseroan Terbatas
b.) MAN = Madrasah Aliah Negeri
c.) SD = Sekolah Dasar
d.) KTP = Kartu Tanda Penduduk
e.) SIM = Surat Izin Mengemudi
f.) NIP = Nomor Induk Pegawai

4. Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
a.) hlm. = halaman
b.) dll. = dan lain-lain
c.) dsb. = dan sebagainya
d.) dst. = dan seterusnya
e.) sda. = sama dengan di atas
f.) ybs. = yang bersangkutan
g.) yth. = yang terhormat
h.) ttd. = tertanda
i.) dkk. = dan kawan-kawan

5. Singkatan yang terdiri atas dua huruf yang lazim dipakai dalam surat-menyurat masing-masing diikuti oleh tanda titik.
Misalnya:
a.) a.n. = atas nama
b.) d.a. = dengan alamat
c.) u.b. = untuk beliau
d.) u.p. = untuk perhatian
e.) s.d. = sampai dengan

6. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Misalnya:
a.) Cu = kuprum
b.) cm = sentimeter
c.) kVA = kilovolt-ampere
d.) kg = kilogram
e.) Rp = rupiah

7. Akronim nama diri yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.
Misalnya:
a.) BIG = Badan Informasi Geospasial
b.) BIN = Badan Intelijen Negara
c.) LIPI = Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
d.) LAN = Lembaga Administrasi Negara
e.) PASI = Persatuan Atletik Seluruh Indonesia

8. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
a.) Bulog = Badan Urusan Logistik
b.) Bappenas = Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
c.) Kowani = Kongres Wanita Indonesia
d.) Kalteng = Kalimantan Tengah
e.) Mabbim = Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia
f.) Suramadu = Surabaya Madura

9. Akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku kata atau gabungan suku kata ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:
a.) iptek = ilmu pengetahuan dan teknologi
b.) pemilu = pemilihan umum
c.) puskesmas = pusat kesehatan masyarakat
d.) rapim = rapat pimpinan
e.) rudal = peluru kendali
f.) tilang = bukti pelanggaran

E. Penulisan Bilangan

Angka Arab atau angka Romawi lazim dipakai sebagai lambang bilangan atau nomor. Angka Arab: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. Angka Romawi: I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1.000), V̄ (5.000), M̄ (1.000.000)

Baca Juga :  Spesifikasi dan Harga iPhone 7 Plus Terbaru

Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali jika dipakai secara berurutan seperti dalam perincian.

Misalnya:
1. Mereka menonton drama itu sampai tiga kali.
2. Koleksi perpustakaan itu lebih dari satu juta buku.
3. Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang abstain.
4. Kendaraan yang dipesan untuk angkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 minibus, dan 250 sedan.

Berikut adalah fungsi penulisan bilangan :
1. Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf.
Misalnya:
a.) Lima puluh siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah daerah.
b.) Tiga pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta.

2. Apabila bilangan pada awal kalimat tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata, susunan kalimatnya diubah.
Misalnya:
a.) Panitia mengundang 250 orang peserta.
b.) Di lemari itu tersimpan 25 naskah kuno.
c.) Catatan: Penulisan berikut dihindari:
d.) 250 orang peserta diundang panitia.
e.) 25 naskah kuno tersimpan di lemari itu.

3. Angka yang menunjukkan bilangan besar dapat ditulis sebagian dengan huruf supaya lebih mudah dibaca.
Misalnya:
a.) Dia mendapatkan bantuan 250 juta rupiah untuk mengembangkan usahanya.
b.) Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 550 miliar rupiah.
c.) Proyek pemberdayaan ekonomi rakyat itu memerlukan biaya Rp10 triliun.

4. Angka dipakai untuk menyatakan (a) ukuran panjang, berat, luas, isi, dan waktu serta (b) nilai uang.
Misalnya:
a.) 0,5 sentimeter
b.) 5 kilogram
c.) 4 hektare
d.) 10 liter
e.) 2 tahun 6 bulan 5 hari
f.) 1 jam 20 menit
g.) Rp5.000,00
h.) US$3,50
i.) £5,10
j.) ¥100

5. Angka dipakai untuk menomori alamat, seperti jalan, rumah, apartemen, atau kamar.
Misalnya:
a.) Jalan Tanah Abang I No. 15 atau
b.) Jalan Tanah Abang I/15
c.) Jalan Wijaya No. 14
d.) Hotel Mahameru, Kamar 169
e.) Gedung Samudra, Lantai II, Ruang 201

6. Angka dipakai untuk menomori bagian karangan atau ayat kitab suci.
Misalnya:
a.) Bab X, Pasal 5, halaman 252
b.) Surah Yasin: 9
c.) Markus 16: 15—16

7. Penulisan bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
a.) Bilangan Utuh
Misalnya:
(1.) dua belas (12)
(2.) tiga puluh (30)
(3.) lima ribu (5.000)
b.) Bilangan Pecahan
Misalnya:
(1.) setengah atau seperdua (1/2)
(2.) seperenam belas (1/16)
(3.) tiga perempat (3/4)
(4.) dua persepuluh (2/10)
(5.) tiga dua-pertiga (3 2/3)
(6.) satu persen (1%)
(7.) satu permil (1o/oo)

8. Penulisan bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut.
Misalnya:
a.) abad XX
b.) abad ke-20
c.) abad kedua puluh
d.) Perang Dunia II
e.) Perang Dunia Ke-2
f.) Perang Dunia Kedua

9. Penulisan angka yang mendapat akhiran -an dilakukan dengan cara berikut.
Misalnya:
a.) lima lembar uang 1.000-an (lima lembar uang seribuan)
b.) tahun 1950-an (tahun seribu sembilan ratus lima puluhan)
c.) uang 5.000-an (uang lima ribuan)

10. Penulisan bilangan dengan angka dan huruf sekaligus dilakukan dalam peraturan perundang-undangan, akta, dan kuitansi.
Misalnya:
a.) Setiap orang yang menyebarkan atau mengedarkan rupiah tiruan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2), dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
b.) Telah diterima uang sebanyak Rp2.950.000,00 (dua juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah) untuk pembayaran satu unit televisi.

11. Penulisan bilangan yang dilambangkan dengan angka dan diikuti huruf dilakukan seperti berikut.
Misalnya:
a.) Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp900.500,50 (sembilan ratus ribu lima ratus rupiah lima puluh sen).
b.) Bukti pembelian barang seharga Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) ke atas harus dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban.

12. Bilangan yang digunakan sebagai unsur nama geografi ditulis dengan huruf.
Misalnya:
a.) Kelapadua
b.) Kotonanampek
c.) Rajaampat
d.) Simpanglima
e.) Tigaraksa

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut . Salah satu kaidah kepenulisan saat ini mengacu pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (PUEBI) yaitu tata cara penulisan huruf.

Tata cara penulisan adalah salah satu kaidah paling besar dalam PUEBI, sehingga terkadang para penulis menyepelekannya. Walaupun tata cara penulisan huruf adalah hal yang besifat mikro dalam menulis buku, tetap saja tata cara ini dianggap penting.

Apalagi dalam penulisan yang bermakna ilmiah, tata cara kecil ini harus dijunjung tinggi demi mendapatkan kualias tinggi. Salah dalam penulisan huruf dalam pengaplikasian huruf dalam sebuah kalimat, maka akan menyebabkan kesalahan yang sangat fatal.

B. SARAN

Saran yang dapat diberikan penulis berikan bedasarkan hasil penelitian mengenai penulisan huruf kapital, miring, tebal, akronim – singkatan, bilangan, dengan ini peneliti memberikan saran pada pihak-pihak yang terkait berdasarkan permasalahan yang terjadi, antara lain :

Bagi Pembaca :
Diharapakan dengan adanya makalah ini dapat memberikan pengetahuan bagi pembaca agar lebih memahami esensi dari kepenulisan huruf sesuai aturan PUEBI.
Diharapkan dengan adanya makalah ini pembaca akan lebih paham cara kepenulisan tanda baca sesuai PUEBI.

DAFTAR RUJUKAN

Sugiarto,Eko.2017. Kitab Puebi. Jakarta: Andi Offset
[Kemendikbud] Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan Dan
Kebudayaan. 2016. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia: Balai Pustaka

Ivanlanin. 2017.“penulisan singkatan dan akronim” http://ivanlanin.github.io/puebi/kata/singkatan-dan-akronim, [diakses pada 10 oktober 2018 pukul 09.43]

Ivanlanin. 2017.“penulisan huruf tebal” http://ivanlanin.github.io/puebi/kata/huruf-tebal, [diakses pada 10 oktober 2018 pukul 09.43.]

Ivanlanin. 2017.“penulisan huruf miring” http://ivanlanin.github.io/puebi/kata/huruf-miring, [diakses pada 10 oktober 2018 pukul 09.43.]

Ivanlanin. 2017.“penulisan angka dan bilangan” http://ivanlanin.github.io/puebi/kata/huruf-angka-dan-bilangan, [diakses pada 10 oktober 2018 pukul 09.43.]

Related posts: