Sejarah Perang Tondano dan Tokoh – Tokohnya

Posted on

Pada masa penjajahan Belanda di nusantara banyak sekali terjadi perlawanan dan peperangan yang cukup hebat. Dimana peperangan atau perlawanan yang terjadi antara rakyat Indonesia dengan para penjajah kolonial Belanda ini banyak terjadi di wilayah-wilayah kerajaan yang ada di Indonesia kala itu yang memiliki wilayah yang strategis dan menyimpan banyak sekali rempah-rempah dan hasil bumi lainnya yang sangat ingin dikuasai oleh Belanda.

Dan tak jarang juga peperangan atau pertempuran ini memakan banyak korban jiwa yang berasal dari pihak rakyat Indonesia mupun dari pihak penjajah kolonial Belanda. Berbicara mengenai perang melawan penjajahan kolonial Belanda di negeri ini, ada salah satu perang yang sangat terkenal yang terjadi di wilayah Sulawesi Utara yang disebut dengan perang Tondano.

Tahukah kalian apa itu perang Tondano? Nah bagi kalian semua yang belum tahu tentang perang tondano, jangan khawatir. Sebab disini akan saya berikan sedikit penjelasan atau materi mengenai perang Tondano yang terjadi di wilayah Sulawesi utara. Berikut materi tentang perang Tondano, silahkan di baca dengan teliti dan disimak dengan baik supaya bisa menambah pengetahuan kalian semua.

Sejarah Perang Tondano

Latar Belakang Terjadinya Perang Tondano

@merdeka

Pada tahun 1808 hingga 1809 terjadi sebuah perang di wilayah danau Tondano, Sulawesi Utara. Perang Tondano ini merupakan perang yang melibatkan antara suku Minahasa dan pemerintah kolonial Belanda.

Yang menjadi akar atau penyebab dari meletusnya perang Tondano ini yaitu adalah dicabutnya perjanjian Verbond yang di buat pada tanggal 10 Januari 1679. Yang mana Perjanjian Verbond ini merupakan sebuah perjanjian yang menandakan adanya suatu ikatan persahabatan atau hubungan baik yang terjadi diantara masyarakat Minahasa dengan pihak kolonial Belanda yang kemudian diingkari oleh pihak kolonial Belanda sendiri.

Baca Juga :  Sejarah Kerajaan Banten

Masyarakat suku Minahasa yang sejak dahulu memang dikenal sangat konsisten di dalam mempertahankan serta menjalankan nilai-nilai budaya yang berorientasi pada kebenaran dan keadilan, dan juga tidak melakukan kompromi pada siapapun yang melanggar adat tersebut.

Karena rakyat suku Minahasa merasa bahwa pihak pemerintah kolonial Belanda sudah melakukan pengingkaran dan pelanggaran terhadap Perjanjian Verbond tersebut yang mana perjanjian Verbond ini sudah menjadi bagian dari adat suku Minahasa yang bisa menjamin keberlangsungan hidup para rakyat suku Minahasa.

Dan karena hal tersebutlah para rakyat Minahasa ini menganggap bahwa pengingkaran atau pelanggaran yang dilakukan oleh Belanda ini merupakan sebuah penghinaan kepada nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang ada pada adat rakyat Minahasa. Sehingga hal inilah yang kemudian menjadi pemicu meletusnya perang Tondano. Perang Tondano ini terjadi 2 (dua) kali, yaitu perang Tondano 1 dan perang Tondano 2.

Perang Tondano I

@ilmuditetaung

Perang Tondano 1 atau perang tondano yang pertama terjadi di masa kekuasaan VOC pada waktu datangnya bangsa Eropa seperti orang-orang Spanyol yang telah sampai di wilayah Minahasa Tondano, Sulawesi Utara. Kedatangan bangsa Spanyol di tanah Minahasa ini yaitu memiliki sejumlah tujuan yaitu untuk berdagang, mencari daerah jajahan, dan menyebarkan agama Kristen.

Salah satu tokoh yang berjasa di dalam penyebaran agama Kristen yang ada di tanah Minahasa yaitu adalah Fransiscus Xaverius.

Semenjak saat itu hubungan dagang yang terjadi antara masyarakat Minahasa dengan Spanyol semakin berkembang. Akan tetapi di awal abad ke 17 hubungan dagang antara rakyat Minahasa dan Spanyol ini mulai terganggu karena adanya pedagang dari VOC, yang merupakan kongsi dagang yang di buat oleh pemerintah Belanda.

Baca Juga :  Sejarah Kerajaan Ternate dan Tidore Beserta Peninggalannya

Yang mana pada waktu itu VOC sudah berhasil untuk menguasai Ternate. Hal inilah yang kemudian membuat para pedagang dari Spanyol dan Makassar yang sebelumnya bebas untuk berdagang di Minahasa menjadi tersingkir karena ulah dari VOC. Spanyol pun harus meninggalkan kepulauan Indonesia dan menuju ke Filipina karena ulah VOC.

Setelah Spanyol pergi dari Minahasa, VOC mengusai tanah Minahasa dan memaksa rakyat Minahasa untuk menjual berasnya kepada VOC karena VOC sangat memerlukan beras untuk melakukan monopoli perdagangan beras di Sulawesi Utara. Namun rakyat Minahasa pun menentang kebijakan VOC ini dan akhirnya terjadilah perang Tondano yang pertama.

Perang Tondano II

@lampungsai

Perang Tondano yang kedua terjadi di abad ke 19 pada saat pemerintahan kolonial Belanda mulai berkuasa di Indonesia. Perang ini terjadi karena kebijakan Gubernur Jenderal Daendels yang mendapatkan mandat untuk memerangi Inggris. Sehingga pihak kolonial Belanda memerlukan pasukan yang lebih banyak untuk melawan Inggris.

Untuk mendapatkan pasukan dalam jumlah besar, pihak Belnada merekrut pasukan dari kalangan pribumi yang diantaranya dipilih dari suku-suku yang memiliki keahlian dalam berperang seperti suku Dayak, Madura, dan Minahasa. Atas perintah dari Daendels, maka Residen Manado mulai mengumpulkan para Ukung (seorang pemimpin dalam suatu wilayah).

Dari Minahasa ditargetkan akan mengumpulkan sebanyak 2000 orang yang akan dikirim ke Jawa. Tapi rakyat Minahasa ini tidak setuju dengan kebijakan Daendels yang ingin merekrut rakyat Minahasa untuk dijadikan sebagai pasukan kolonial. Banyak dari para Ukung yang kemudian bersatu untuk mengadakan perlawanan kepada Belanda.

Mereka memusatkan kegiatan perjuangannya di Tondano. Salah seorang pemimpin perlawan tersebut yaitu adalah Ukung Lonto yang menegaskan bahwa rakyat Minahasa harus berani melawan Belanda sebagai bentuk penolakan pengiriman 2000 orang Minahasa ke Jawa dan menolak kebijakan Belanda yang memaksa rakyat untuk menyerahkan beras dengan gratis kepada Belanda.

Baca Juga :  Biografi Jendral Sudirman : Panglima Besar Masa Revolusi

Karena kondisi yang semakin kritis maka akhirnya pihak Belanda mengirim pasukan untuk meyerang pertahan rakyat Minahasa yang ada di Tondano.

Hingga akhirnya pada tanggal 23 Oktober 1808 peperangan mulai meletus dan pasukan Belanda yang berpusat di danau Tondano berhasil untuk melakukan serangan serta merusak pagar bambu berduri yang membatasi wilayah danau dengan perkampungan Minawanua.

Sehingga pasukan Belanda pun akhirnya bisa menerobos pertahanan dari rakyat Minahasa yang ada di Minawanua. Akan tetapi hal ini tidak menyurutkan semangat juang para rakyat Minahasa dalam melakukan pelawanan pada pasukan Belanda. Dengan semangat juang yang tinggi dan pantang menyerah, rakyat Minahasa terus menyerang pasukan Belanda. Dan peperangan ini terjadi cukup lama sekali bahkan hingga Agustus 1809.

Karena berada dalam kondisi kekurangan makanan dan kelelahan maka mulai ada kelompok pejuang yang akhirnya berpihak kepada Belanda. Hingga pada akhirnya pada tanggal 4 – 5 Agustus 1809 Benteng pertahanan Moraya yang di bangun oleh para pejuang dari Minahasa hancur bersama dengan rakyat Minahasa yang berusaha untuk mempertahankan benteng tersebut.

Para pejuang ini memilih untuk mati dari pada harus menyerah kepada pemerintah kolonial Belanda.

peranjian verbond, tokoh perang tondano
Related posts: