Sejarah Gereja Ayam Jogja [Asal Usul Pembangunan]

Posted on

Semenjak perilisan film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) beberapa tahun yang lalu beberapa tempat wisata atau bangunan yang ada di dalam setting cerita film tersebut mendadak menjadi ramai dan menjadi tujuan para wisatawan. Yang mana di dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) ini banyak mengambil beberapa tempat-tempat atau spot menarik yang ada di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya.

Salah satu tempat yang menjadi booming dan menjadi hits gara-gara film Ada Apa Dengan Cinta (AADC 2) ini yaitu adalah gereja ayam. Yang mana gereja ayam ini adalah sebuah bangunan gereja yang bentuknya menyerupai sebuah ayam atau sebuah burung lengkap dengan jengger dan paruhnya yang lancip.

Sebelum munculnya film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) tempat ini belum banyak diketahui oleh masyarakat luas, namun karena terdapat di dalam salah satu setting tempat di film tersebut maka tempat ini pun mulai ramai dikunjungi oleh para wisatawan yang penasaran akan bangunan yang unik ini.

Lalu tahukah kalian semua disini tentang bagaimana asal usul atau sejarah pembangunan gereja ayam ini? Ternyata bangunan gereja ayam ini dibangun dengan proses yang cukup panjang sekali. Berikut akan saya berikan tentang sejarah berdirinya bangunan gereja ayam ini.

Mengenal Asal Usul Pembangunan Bukit Rhema

@pandji-indonesia

Bangunan rumah doa yang ada di Bukit Rhema Borobudur ini dibangun oleh seorang yang bernama Daniel Alamsjah di tahun 1992 silam. Daniel adalah seorang pria yang datang dari keluarga yang kurang mampu dan ia merupakan seorang Kristen yang taat kepada Tuhan.

Sejak kecil hidupnya sudah serba berkekurangan. Sehingga ia pun harus menjadi seorang kenek truk agar bisa bertahan hidup. Suatu hari ia jatuh sakit dan menderita penyakit paru-paru. Karena pada saat itu ia tidak memiliki cukup uang untuk melakukan pengobatan, ia pun hanya bisa berserah dan mengandalkan Tuhan saja.

Baca Juga :  Sejarah Henna

Ia saat itu berjemaat di gereja GBI Rawabebek. Dengan kondisi tubuhnya yang sakit ia tetap setia ke gereja dan tetap mengandalkan Tuhan. Sampai pada akhirnya mujizat Tuhan pun terjadi di dalam hidup Daniel. Ia berhasil sembuh dari penyakit paru-parunya dan ia diterima bekerja di salah satu perusahaan export dan import.

Di tahun 1978 lagi-lagi Tuhan memberikan mujizat di dalam hidup Daniel, yang mana ia diterima di salah satu perusahaan asing yang cukup besar di Jakarta pada waktu itu, padahal ia hanya lulusan SD. Namun meskipun Daneiel ini cuma lulusan SD ia memiliki karir yang bagus.

Dari sinilah keadaan perekonomian Daniel mulai membaik dan ia bisa membeli rumah dan mobil serta ia juga memiliki bisnis percetakan. Pada saat itu ia pun membuat rumahnya sendiri sebagai tempat untuk ibadah persekutuan doa. Dan Daniel pun menjadi pelopor dari terbentuknya Persekutuan Doa Karyawan di GRI Plaza, tempatnya bekerja waktu itu.

Sejarah Gereja Ayam

@traveltodayindonesia

Pada suatu hari pada saat Daniel selesai berdoa di lantai atas rumahnya, ia membuka mata dan melihat ada gambar perbukitan dan Rumah Tuhan. Tapi beberapa detik kemudian gambar tersebut menghilang. Rupanya Tuhan saat itu sedang memberikan sebuah penglihatan kepada Daniel tentang Bukit Rhema yang saat itu ia belum mengerti maksudnya.

Saat libur lebaran Daniel dan keluarganya selalu pergi ke kampung istrinya yang ada di Borobudur. Pada saat disana ia bertemu dengan seorang pemuda bernama Jito yang akan mencari rumput ke sebuah bukit. Daniel pun kemudian ikut dengan Jito naik ke sebuah bukit. Sesampainya di bukit tersebut betapa terkejutnya Daniel karena bukit tersebut sama persis dengan penglihatannya waktu itu.

Baca Juga :  Sejarah Suku Minangkabau [Kebudayaan dan Ciri - Ciri]

Saat kembali ke Jakarta pun ia terus terbayang-bayang akan bukit tersebut. Dan ia merasa seolah ada sesuatu yang membuatnya untuk kembali ke bukit tersebut. Selang beberapa minggu kemudian Daniel kembali lagi ke bukit tersebut dan ia berdoa kepada Tuhan.

Ia berdoa pada sore hari sekitar jam 5 sore seorang diri di bukit tersebut yang kondisinya mulai gelap dan mulai terasa dingin. Ia terus berdoa dan memuji Tuhan dan menyembah Tuhan dengan keras di bukit tersebut selama semalaman. Pagi harinya ketika ia turun dari bukit ia bertemu dengan orang desa dan bertanya kepadanya apakah Daniel tidak bertemu dengan orang gila di bukit yang semalaman berteriak-teriak. Padahal orang tersebut adalah dirinya sendiri, Daniel hanya bisa tersenyum.

Ia pun kemudian berpesan kepada bapak mertuanya untuk mencari tahu siapa pemilik tanah yang ada di bukit tersebut. Seminggu kemudian bapak mertuanya menemuinya di Jakarta dan memberikan kabar bahwa sang pemilik tanah di bukit tersebut menjual tanahnya. Saat itu tanah tersebut dijual dengan harga sekitar Rp. 8 juta.

Di masa tersebut uang 8 juta sangat besar sekali jumlahnya bagi Daniel. Ia pun menawarnya 1,5 juta. Lalu beberapa minggu kemudian akhirnya Daniel membeli tanah tersebut dengan harga Rp. 2 juta dengan memakai tabungan deposito miliknya. Akhirnya tanah di bukit tersebut menjadi milik Daniel dan ia memiliki keinginan untuk mendirikan sebuah rumah doa di bukit tersebut.

Baca Juga :  Cerita Perjalanan Prabu Siliwangi [Lengkap]

Doa dan Puasa

Ia pun mulai bertekun dalam doa dan berpuasa. Daniel terus menantikan janji Tuhan dalam hidupnya. Yaitu terbukti setelah selama kurang lebih 4 tahun ia bertekun dalam doa dan puasa ia dapat membangun sebuah bangunan untuk rumah doa di tanah di bukit tersebut. Daniel menamai tanah yang ada di bukit tersebut dengan nama Bukit Rhema. Yang mana kata Rhema ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti “Sebuah firman yang Hidup dan menjadi Kenyataan”.

Waktu 4 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk bertahan dalam doa dan pengharapan kepada Tuhan, yang mana saat itu Daniel sempat berputus asa dan ia sempat meminta bantuan dana kepada salah satu pendeta. Namun akhirnya Tuhan menggenapi janji-Nya kepada Daniel dan ia akhirnya berhasil untuk membangun sebuah rumah doa di bukit tersebut.

Bukit Rhema ini dibangun dengan tujuan untuk rumah doa bagi setiap orang yang datang dari berbagai macam suku bangsa, yang saat ini lebih dikenal dengan nama Gereja Ayam. Bangunan ini ternyata juga tak hanya di fungsikan sebagai tempat untuk rumah doa saja namun juga sempat di pakai untuk tempat panti rehabilitasi bagi anak-anak difabel atau yang memiliki kebutuhan khusus, para pecandu narkoba, para penderita gangguan kejiwaan dan juga anak muda yang bermasalah.