Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia

Posted on

Ejaan bisa diartikan sebagai aturan tentang penulisan huruf dan pemakain huruf, kata, unsur, serapan, dan tanda baca dalam berbahasa sehari-hari. Jika kita melihat sejarah dari perkembangan bahasa Indonesia dari dulu hingga sekarang, salah satu hal yang tak lepas dari pengaruh perkembangan bahasa Indonesia yaitu adalah perkembangan ejaannya.

Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia

@garudacitizen

Perlu diketahui bahwa beberapa ratus tahun yang lalu, Bahasa Indonesia belum disebut sebagai Bahasa Indonesia seperti sekarang ini melainkan disebut sebagai bahasa Melayu. Pada jaman-jaman kerajaan di Indonesia masih memakai bahasa Sansekerta dengan huruf Pallawa dan belum mengunakan huruf latin.

Pada sekitar abad ke 13 bahasa melayu kuno mulai digunakan oleh rakyat kerjaan-kerajaan yang ada di Indonesia saat itu. Hal ini karena pengaruh kedatangan para pedangang-pedagang dari melayu ke kerajaan-kerajaan di Indonesia. Para pedagang ini mereka menggunakan Bahasa Melayu kuno sebagai bahasa perdagangang mereka sehari-hari sehingga akhirnya mulai banyak penduduk-penduduk lokal yang mulai menggunakan Bahasa melayu kuno juga.

Kemudian bahasa melayu ditulis dengan memakai huruf Arab sehingga terciptalah huruf arab-melayu yang pada saat itu banyak digunakan sebagai panduan ejaan dan penulisan karya-karya sastra sebelum menggunakan huruf latin. Barulah kemudiaan pada saat kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia bahasa melayu ditulis dan dieja menggunakan huruf latin. Beberapa tokoh dari Belanda yang mencetuskan penulisan bahasa melayu menggunakan huruf latin diantaranya yaitu Joannes Roman, Sebastian Dancaert dan Casper Wiltens.

Artikel Terkait : 5 Jenis Tanah Subur dan Cara Merawat Tanah Agar Selalu Subur

Memasuki abad ke 20 masyarakat Indonesia mulai menaruh perhatian yang serius terhadap ejaan yang mereka gunakan sehari-hari. Hal ini terbukti dengan ditetapkannya ejaan Van Ophuijsen pada tahun 1901. Sejak saat itu ejaan Bahasa Indonesia mulai berkembang dan mengalami beberapa kali perubahan. Total terdapat empat ejaan yang digunakan dalam Bahasa Indonesia mulai dari abad ke 20 hingga saat ini. ke empat ejaan itu diantaranya:

  1. Ejaan Van Ophuijsen
  2. Ejaan Soewandi (Ejaan Republik)
  3. Ejaaan Melindo
  4. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

Ejaan Yang Pernah Digunakan di Indonesia

1. Ejaan Van Ophuijsen

Ejaan Van Ophuijsen adalah ejaan pertama yang dimiliki oleh Bahasa Indonesia. Ejaan Van Ophuijsen ditetapkan pertama kali pada tahun 1901 oleh perancangnya yaitu Charles Van Ophuijsen yang adalah seorang Belanda dengan dibantu Tengku Nawawi yang memiliki gelar Soetan Ma’moer dan M. Taib Soetan Ibrahim.

Ejaan ini memakai huruf latin dan penuturannya hampir sama dengan bahasa Belanda. Beberapa ciri dari ejaan Van Ophuijsen ini diantaranya yaitu:

  • Huruf “J” digunakan untuk menuliskan bunyi “Y”.

Contohnya seperti pada kata jang (yang), pajung (payung), sajang (sayang).

  • Huruf “oe” digunakan untuk menuliskan bunyi “u”.

Contohnya seperti pada kata itoe (itu), oemoer (umur), goeroe (guru).

  • Tanda diakritik seperti koma ain dan tanda trema untuk menuliskan bunyi hamzah. contohnya seperti: pa’, ta’, ‘akal.
  • Huruf hidup yang diberi tanda titik dua diatasnya seperti huruf ä, ë, dan ö itu menandai bahwa huruf tersebut dibaca sebagai satu suku kata, hal ini sama dengan ejaan bahasa Belanda hingga saat ini.

 

Baca Juga :  Contoh Kop Surat Surat Resmi, Surat Instansi Pemerintahan, Surat Perusahaan dll

2. Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi

@kompasiana

Ejaan republik ini berlaku mulai tanggal 17 Maret 1947 yang menggantikan ejaan Van Ophuijsen. Karena pada saat itu Indonesia baru saja merdeka sehingga pemerintah Indonesia pada saat itu ingin mengganti ejaan Van Ophuijsen yang disusun oleh orang Belanda dengan ejaan republik nya sendiri yang disusun oleh orang Indonesia.

Artikel Terkait : Penjelasan Tanda Kepangkatan POLRI

Penyempurnaan ejaan ini diresmikan berdasarkan putusan Menteri Pengadjaran Pendidikan dan Kebudajaan Indonesia pada masa itu, yaitu Mr. Soewandi. Adapun beberapa perubahan dan ciri dari ejaan republik ini yaitu sebagai berikut:

  • Huruf “oe” diganti dengan menggunakan huruf “u”.

Contohnya jika dalam ejaan sebelum nya penulisannya “akoe”, maka dalam ejaan republik diganti menjadi “aku”.

  • Huruf hamzah dan tanda petik dihilangkan dan diganti dengan menggunakan huruf “K” sebagai penggantinya.

Contohnya pada kata “ra’yat” menjadi “rakyat”.

  • Kata berulang boleh ditulis dengan menggunakan angka 2.

Contohnya kata “kupu-kupu” boleh ditulis menjadi “kupu2”, kata “jalan-jalan” boleh ditulis menjadi “jalan2”.

  • Awalan “di” dan kata depan “di” keduanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya. Tidak ada perbedaan dalam penulisan kata depan “di” seperti kata dirumah, disawah dengan kata depan “di” seperti kata dimakan, dibeli.

 

3. Ejaan Melindo

Pada tahun 1956 diadakan kongres di Singapura untuk kembali menyempurnakan ejaan sebelumnya yang dinilai masih belum praktis. Kongres ini dihadiri oleh masing-masing menteri dari Malaysia dan Indonesia pada saat itu. Ejaan melindo lahir sebagai hasil usaha penyatuan sistem ejaan dengan hurf latin di indonesia dan perksekutuan tanah melayu (Malaysia). Beberapa ciri dari ejaan Melindo ini diantaranya adalah:

  • Gabungan konsonan “tj” diganti dengan huruf “c”.

Contohnya yaitu pada kata “tjinta” menjadi “cinta”.

  • Gabungan konsonan “nj” diganti dengan huruf “nc”.

Namun ejaan Melindo ini tak pernah sampai diterapkan karena perkembangan politik Indonesia dan Malaysia yang kurang baik pada saat itu.

4. Ejaan yang Disempurnakan

@tigaserangkai

Ejaan ini diberlakukan sejak tanggal 23 Mei 1972 atas kerjasama antara Malaysia dan Indonesia. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 57 tahun 1972, maka pada tanggal 16 Agustus 1972 diberlakukan sistem ejaan latin bagi Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia. Di Malaysia ejaan baru ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama (ERB) dan di Indonesia disebut sebagai Ejaan yang Disempurnakan (EyD).

Kemudian baru pada tanggal 17 Agustus 1972 diresmikanlah pemakaian Ejaan yang Disempurnakan ini. Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan ini merupakan hasil penyederhanaan dan penyempurnaan dari ejaan republik atau ejaan soewandi yang ada sebelumnya.

Dalam perjalanannya Ejaan yang Disempurnakan ini telah mengalami dua kali revisi. Yang pertama pada tahun 1987 berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0543a/U/1987 tentang Penyempurnaan “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan”.

Sedangkan revisi yang kedua dilakukan pada tahun 2009 berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

Beberapa perbedaan pada Ejaan yang Disempurnakan dengan ejaan sebelumnya adalah:

  • Penulisan huruf “dj” menjadi “j”.

Contohnya pada kata “djarak” menjadi “jarak”

  • Penulisan huruf “ch” menjadi “kh”.

Contohnya pada kata “achir” menjadi “akhir”

  • Penulisan huruf “nj” menjadi “ny”.

Contohnya pada kata “njamuk” menjadi “nyamuk”

  • Penggunaan huruf F, V, Z yang merupakan serapan dari bahasa asing diresmikan penggunaannya.
  • Awalan ”di” penulisannya dipisah, contohnya seperti pada kata di rumah, di kebun. Sedangkan penulisan kata depan “di” penulisannya digabung. Contohnya seperti pada kata ditulis, diminum.
  • Kata ulang ditulis dengan mengulang unsurnya, bukan dengan menggunakan angka 2 sebagai tanda pengulangan.

Seiring dengan berkembangnya jaman, kini muncul juga ejaan baru dalam Bahasa Indonesia yang disebut dengan Ejaan Bahasa Indonesia atau biasa disingkat EBI. Perbedaan Ejaan Bahasa Indonesia dengan Ejaan yang Disempurnakan ini diantaranya adalah penggunaan huruf vokal diftong nya. Jika pada Ejaan yang Disempurnakan huruf diftong hanya ada 3 yaitu “ai”, “au”, “oi” sedangkan pada Ejaan Bahasa Indonesia ditambah satu yaitu “ei”. Contohnya seperti pada kata “survei.

Itulah tadi sejarah mengenai Ejaan Bahasa Indonesia dari jaman dahulu hingga saat ini. Sebagai warga Negara yang baik gunakanlah ejaan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

ejaan bahasa indonesia yang dimiliki hingga sekarang
Related posts: