Bagaimana Pernikahan Beda Agama Menurut Kristen

Posted on

Pernikahan memang menjadi sebuah hal yang tampaknya menjadi goals atau tujuan bagi para pasangan kekasih yang sedang menjalin hubungan asmara. Setiap orang di dunia ini pasti ingin menikah dan memiliki keturunan serta membentuk suatu keluarga yang bahagia.

Hal mengenai pernikahan ini juga diatur menurut hukum masing-masing yang berlaku baik di dalam agama maupun di dalam hukum negara. Tiap agama pasti memiliki pandangan masing-masing mengenai pernikahan ini, termasuk juga di dalam ajaran agama Kristen.

Salah satu hukum tentang pernikahan di dalam ajaran agama Kristen yang tak boleh dilanggar yaitu adalah mengenai pernikahan beda agama. Namun nampaknya baik secara hukum agama maupun hukum negara pernikahan beda agama ini juga menjadi suatu hal yang sangat ditentang. Yang mana di dalam Alkitab juga telah di jelaskan mengenai pernikahan beda agama ini, baik di dalam Perjanjian Lama maupun di dalam Perjanjian Baru.

Di dalam Perjanjian Lama hukum tentang larangan pernikahan beda agama ini dibuat dengan tujuan supaya para umat Tuhan tidak mengikuti ajaran allah lain yang pada akhirnya membuat mereka meninggalkan Tuhan. Hal ini bisa kita lihat di dalam Ulangan 7:3-4 yang berbunyi : “Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki; sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang daripada-Ku, sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka Tuhan akan bangkit terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engkau dengan segera.”

Sedangkan di dalam Perjanjian Baru hukum mengenai pernikahan beda agama ini juga tertulis di dalam 2 Korintus 6:14 yang berbunyi : “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?”

Di dalam Perjanjian Baru ini Tuhan Yesus menekankan bahwa pernikahan merupakan sebuah hubungan yang kudus dan sakral. Oleh sebab itulah Tuhan ingin supaya para umat-Nya untuk selalu menjaga kekudusannya dan tidak merusak kekudusan yang ada tersebut.

Baca Juga :  15 Cara Kreatif Menyimpan Barang Berharagamu

Pengertian Pernikahan Beda Agama

@muhammadmukhlisin

Pernikahan beda agama ini merupakan sebuah pernikahan yang terjadi antara dua orang yang memiliki keyakinan dan iman yang berbeda. Yang mana jika seseorang Kristen terlanjur atau masih akan ingin melangsungkan pernikahan beda agama ini dengan kekasihnya maka ya jawabannya yaitu adalah kembali lagi kepada apa tujuan hidup orang Kristen, yaitu adalah salah satunya untuk menyenangkan hati Tuhan.

Sebab di dalam Kristen pernikahan bukan hanya sebagai ikatan yang digunakan untuk hanya sebagai kesenangan pribadi saja atau hanya untuk memiliki keturunan. Namun lebih dari itu Tuhan ingin agar di setiap pernikahan umat-Nya ini Tuhan bisa menggenapi rencana yang telah di buat-Nya untuk keluarga tersebut. Bagaimana rencana Tuhan tersebut bisa tercapai apabila tidak ada persamaan visi, misi, serta pandangan atas agama di dalam keluarga tersebut?

Yang mana disini agama sifatnya bukan hanya sekedar status saja, namun agama juga bertindak sebagai nilai-nilai hidup dan norma yang akan bisa menuntun kehidupan manusia menjadi lebih baik. Oleh sebab itulah Tuhan sangat menentang yang namanya pernikahan beda agama ini. Dan sebaiknya sebelum menikah, maka harus difikirkan matang-matang tentang prinsip-prinsip dasar pernikahan di dalam Kristen yang akan menjadi pondasi utama dari pernikahan tersebut.

Hal mengenai pernikahan beda agama ini pun juga telah diatur di dalam hukum negara Indonesia, yang mana hal tersebut diatur di dalam Undang – Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974. Selain itu juga bahwa seluruh agama yang ada di Indonesia sebetulnya tidak membenarkan adanya pernikahan beda agama ini, termasuk juga agama Kristen di dalamnya. Oleh karena itulah tak heran jika banyak pasangan beda keyakinan atau beda agama yang akhirnya memilih untuk menikah di luar negeri yang melegalkan pernikahan beda agama ini.

Baca Juga :  Arti Simpati dan Empati Serta Contohnya

Hukum Pernikahan Beda Agama Menurut Kristen

@sfoachurch

Bagaimana pendapat dan peraturan gereja Kristen menyangkut pernikahan beda agama? Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (MPL PGI) tahun 1989 menyatakan bahwa hukum nikah beda agama menurut Kristen Protestan institusi yang berhak mengesahkan suatu pernikahan adalah negara melalui kantor catatan sipil.

Hal ini berarti bahwa gereja wajib meneguhkan dan memberkati suatu pernikahan yang sudah terlebih dulu sah secara hukum. Namun demikian dalam prakteknya, pemberkatan nikah di gereja dilakukan lebih dulu daripada catatan sipil. Beberapa gereja di Indonesia juga memiliki pandangan dan sikap yang berbeda-beda untuk pernikahan beda agama, antara lain :

  • Pro

Gereja yang pro terhadap pernikahan beda agama menganjurkan pasangan untuk menikah secara sipil terlebih dulu dengan tetap menganut agama masing-masing. Setelah sah secara hukum, dilakukanlah penggembalaan khusus untuk pasangan tersebut dan diakhiri dengan pemberkatan pernikahan oleh gereja.

  • Kontra

Gereja akan memberikan berkat dan mengizinkan pernikahan dilangsungkan di gereja dengan syarat pasangan yang bukan Kristen bersedia mengikuti semua tata cara untuk masuk ke agama Kristen. Ada juga gereja Kristen yang tidak memaksakan harus pindah agama namun untuk izin berlangsungnya pernikahan di gereja, pasangan tersebut harus mendapat persetujuan dari pemuka agama asal.

Gereja yang tidak setuju dengan pernikahan beda agama sama sekali tidak mau hukum nikah beda agama menurut Kristen Protestan. Ada juga gereja yang mengeluarkan orang Kristen yang menikah dengan pasangan beda agama dari anggota jemaat gereja.

Baca Juga :  Contoh Meme Buka Puasa [Gambar]

Selain itu, untuk melangsungkan pernikahan di gereja, pasangan juga harus memenuhi syarat pernikahan Kristen. Syarat-syarat tersebut biasanya berupa formulir pemberkatan nikah dari gereja masing-masing, surat baptis dan sidi dari kedua belah pihak, serta surat keterangan sudah mengikuti konseling pra nikah dari gereja yang bersangkutan.

Related posts: