Written by 9:42 am Pendidikan

Niat Puasa Ayyamul Bidh

Di dalam ajaran agama Islam, ada banyak sekali jenis puasa yang disunnahkan. Yang mana puasa sunnah ini merupakan jensi puasa yang dianjurkan oleh para nabi untuk dilakukan dan dikerjakan oleh para umat Islam. Namun meskipun tidak mengerjakan atau menjalankannya maka juga tidak akan mendatangkan dosa bagi umat Muslim sendiri.

Salah satu puasa sunnah yang akan saya bahas disini yaitu adalah puasa Ayyamul Bidh. Yang mana puasa Ayyamul Bidh ini merupakan salah satu puasa sunnah yang dicontohkan oleh nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam. Puasa sunnah Ayyamul Bidh ini biasanya dilaksanakan atau dikerjakan di setiap pertengahan bulan Hijriyah, yaitu di setiap tanggal 13, 14, dan 15.

Lalu sebenarnya apakah itu puasa Ayyamul Bidh ini? Dan apa sajakah keutamaannya bagi umat Muslim yang menjalankan atau mengerjakan puasa ini? Dan bagaimana cara-cara dalam menjalankan atau mengerjakan puasa Ayyamul Bidh ini?

Nah buat kalian semua yang mungkin masih belum mengerti dan belum paham tentang puasa Ayyamul Bidh ini, maka disini akan saya berikan sedikit ulasannya kepada kalian semua tentang puasa sunnah Ayyamul Bidh.

Pengertian Puasa Ayyamul Bidh

@prelo

Puasa sunnah Ayyamul Bidh merupakan puasa sunnah yang dilakukan di setiap pertengahan bulan Hijriyah, yaitu di tanggal 13, 14, dan 15. Kata Ayyamul Bidh sendiri terdiri dari dua kata, yaitu dari kata Ayyamul yang merupakan bentuk jamak dari kata Al-yaum yang berarti hari. Sedangkan kata bidh artinya putih. Sehingga dari pengertian tersebut bisa diartikan bahwa Ayyamul Bidh merupakan hari-hari putih.

Yang mana hal ini merujuk pada tanggal 13, 14, dan 15 di setiap bulan Hijriyah ini sedang terjadi bulan purnama yang sinarnya berwarna putih. Tentang penyebutan puasa Ayyamul Bidh ini ada dua pendapat yang mengatakan tentang asal usul dari puasa Ayyamul Bidh ini. Yang mana pendapat yang pertama merupakan riwayat dari bnu Abbas radhiyallahu anhu yang menjelaskan bahwa asal mula dinamai ayyamul bidh ini terkait cerita nabi adam ‘alaihissalam ketika diturunkan ke bumi.

ثُمَّ سَبَبُ التَّسْمِيَةِ بِأَيَّامِ الْبِيضِ مَا رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ إِنَّمَا سُمِيَتْ بِأَيَّامِ الْبِيضِ لِأَنَّ آدَمَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمَّا أُهْبِطَ إِلَى الْأَرْضِ أَحْرَقَتْهُ الشَّمْسُ فَاسْوَدَّ فَأَوْحَى اللهُ تَعَالَى إِلَيْهِ أَنْ صُمْ أَيَّامَ الْبِيضِ فَصَامَ أَوَّلَ يَوْمٍ فَأبْيَضَّ ثُلُثُ جَسَدِهِ فَلَمَّا صَامَ الْيَوْمَ الثَّانِيَّ اِبْيَضَّ ثُلُثُ جَسَدِهِ فَلَمَّا صَامَ الْيَوْمَ الثَّالِثَ اِبْيَضَّ جَسَدُهُ كُلُّهُ

“Sebab dinamai ‘ayyamul bidh’ adalah sebagaimana riwayat Ibnu Abbas RA, dinamai ayyamul bidh karena ketika Nabi Adam AS diturunkan ke muka bumi, matahari membakarknya sehingga tubuhnya menjadi hitam. Kemudian Allah SWT mewahyukan kepadanya untuk berpuasa pada ayyamul bidh (hari-hari putih); ‘Berpuasalah engkau pada hari-hari putih (ayyamul bidh)’. Lantas Nabi Adam AS pun melakukan puasa pada hari pertama, maka sepertiga anggota tubuhnya menjadi putih. Ketika beliau melakukan puasa pada hari kedua, sepertiga anggota yang lain menjadi putih. Dan pada hari ketiga, sisa sepertiga anggota badannya yang lain menjadi putih.”

Sedangkan pendapat yang kedua yaitu yang menyatakan bahwa dinamai Ayyamul Bidh ini karena pada malam-malam tersebut sinar dari bulan purnama ini akan bersinar dengan terang dan akan selalu terlihat dari semenjak waktu matahari mulai terbenam sampai matahari akan terbit lagi. Sehingga dengan begitu baik siang maupun malam akan menjadi putih (terang).

وَقِيلَ سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِأَنَّ لَيَالِي أَيَّامِ الْبِيضِ مُقْمِرةٌ وَلَمْ يَزَلِ الْقَمَرُ مِنْ غُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى طُلَوعِهَا فِي الدُّنْيَا فَتَصِيُر اللَّيَالِي وَالْأَيَّامُ كُلُّهَا بِيضًا

“Pendapat lain menyatakan, hari itu dinamai ayyamul bidh karena malam-malam tersebut terang benderang oleh rembulan dan rembulan selalu menampakkan wajahnya mulai matahari tenggelam sampai terbit kembali di bumi. Karenanya malam dan siang pada saat itu menjadi putih (terang),” (Badruddin Al-‘Aini Al-Hanafi, ‘Umdatul Qari` Syarhu Shahihil Bukhari, juz XVII, halaman 80).

Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh

Sama seperti dengan puasa sunnah lainnya, puasa Ayyamul Bidh ini juga memiliki beberapa keutamaan apabila dikerjakan oleh seorang Muslim. Berikut akan saya berikan beberapa keutamaan puasa Ayyamul Bidh.

1. Menghidupkan Sunnah Nabi

@ranti

Pada saat seorang muslim menjalankan atau mengerjakan puasa Ayyamul Bidh maka secara tidak langsung hal itu berarti bahwa orang tersebut telah mengikuti dan meneladani apa yang sudah diajarkan oleh rasulullah. Dan pada saat seorang Muslim tersebut telah mengikuti Rasul, maka ia dapat berharap untuk memperoleh syafaatnya di hari akhir kelak.

2. Seperti Puasa Sepanjang Tahun

@jogja.tribunnews

Salah satu keutamaan dari puasa Ayyamul Bidh ini apabila dikerjakan yaitu adalah seperti puasa selama sepanjang tahun. Hal ini sesuai dengan sabda dari nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam :

صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ

“Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.”

Oleh sebab itulah puasa Ayyamul Bidh ini sangat baik sekali untuk dijalankan dan sangat dianjurkan oleh rasulullah agar setiap umat Muslim dapat mengerjakan puasa sunnah ini.

Tata Cara Puasa Ayyamul Bidh

@aanwijzing

1. Puasa ini dikerjakan di setiap tanggal 134, 14, dan 15 bulan Hijriyah. Namun kecuali pada tanggal 13 Dhulhijjah, sebab pada hari tersebut merupakan hari diharamkannya puasa atau yang biasa disebut dengan tasyriq.
Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya,

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).”

2. Bagi seorang istri yang ingin melaksanakan ibadah puasa sunnah ini harus seijin dari suaminya.

“Janganlah seorang wanita berpuasa sunnah sedang suaminya ada, kecuali dengan seizinnya.”

3. Puasa Ayyamul Bidh ini juga boleh untuk dilakukan pada saat sedang bepergian maupun pada saat sedang tidak bepergian.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.”

Niat Puasa Ayyamul Bidh

@steemkr

Sama seperti dengan puasa sunnah lainnya, seorang Muslim yang ingin menjalankan puasa Ayyamul Bidh ini juga harus mengucapkan niat sebagai berikut :

نَوَيْتُ صَوْمَ اَيَّامَ اْلبِيْضِ سُنَّةً لِلهِ تَعَالَى

NAWAITU SAUMA AYYAMI BIDH SUNNATAN LILLAHI TA’ALA

“Saya berniat puasa pada hari-hari putih , sunnah karena Allah ta’ala.”

Niat puasa ini dapat dilakukan setelah fajar terbit selama belum makan dan minum atau melakukan hal lain yang bisa membatalkan puasa. Dan boleh juga untuk menggabungkannya dengan niat puasa yang rutin dilakukan seperti puasa senin kamis dan puasa daud, karena puasa ini termasuk puasa sunnah.

Last modified: September 16, 2020

Title : Niat Puasa Ayyamul Bidh
Deskripsi :