Niat Mandi Besar Setelah Haid Serta Doa dan Caranya

Posted on

Haid atau menstruasi merupakan keadaan normal sebagai siklus bulanan yang ditandai dengan keluarnya darah dari kemaluan atau rahim wanita karena dipengaruhi oleh hormon reproduksi. Haid dialami oleh semua kaum hawa

Yang membedakannya adalah kebiasaan tiap – tiap wanita tersebut. Rentang waktu terjadinya haid bagi seorang wanita normalnya adalah 3 atau 10 hari atau paling lama diatas 10 hari.

Perempuan yang sudah menginjak masa puber sekitar 11- 14 tahun untuk pertama kalinya merasakan apa namnya haid atau monopouse ketika menginjak umur 51 tahun.

Cara Mengetahui Haid Telah Selesai

Wanita bisa mengenali tanda – tanda haid sudah selesai dengan beberapa tanda berikut ini :

1. Keluarnya cairan putih. Rahim mengeluarkan cairan putih bisa dianggap tanda bahwa darah haid sudah selesai keluar.

2. Kemudian cara kedua adalah farji sudah mengering. Apabila farji dirasa sudah kering dan tidak ada sama sekali darah yang keluar, maka kita sudah bisa mengklaim haid sudah selesai. Cara mengetahuinya dengan mengusap dengan kapas apabila kapas masih kering dan bersih maka haid sudah dipastikan selesai. Kemudian baru kita melakukan mandi besar.

Bacaan Niat Doa Atau Niat Mandi Besar Setelah Haid Atau Menstruasi

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْحَيْضِ ِللهِ تَعَالَى

“nawaytul ghusla lirof’il hadatsil haydthi lillahi ta’aala”

Artinya :
saya berniat mengangkat hadast haidz karena Allah Ta’aala

Tata Cara Mandi Besar

1. Niat Mandi Wajib

@islamudina

Segala sesuatu pasti diawali dengan niat, demikian juga dengan mandi wajib. Berdasarkan berbagai madzab yang ada di islam, dalam niat kita boleh mengucapkannya dengan lisan atau cukup di dalam hati saja.

Artikel Terkait : Contoh Proposal Kegiatan Sekolah

Selain itu apabila tidak sempat untuk menghafalkan niat dalam bahasa Arab kita bisa mengucapkannya dalam bahasa Indonesia. Tapi kalau bisa diusahakan tetap menggunakan bahasa arab agar sesuai dengan anjuran Rasulullah Saw.

Baca Juga :  Spesifikasi dan Harga iPhone 8 (Rumor)

2. Membersihkan Kemaluan

@suara

Hal pertama yang harus dilakukan adalah membersihkan kemaluan dari berbagai kotoran yang menempel. Sebagai tambahan tips saja jika ingin membersihkan sesuai anjuran islam anda dapat menggunakan daun bidara. Daun ini dipercaya dapat membebaskan kita dari bakteri yang menempel.

Berdasarkan penelitian manfaat yang terkandung dalam daun bidara antara lain:
1. Daun ini memiliki senyawa antibakteri
2. Mengandung senyawa antioksidan
3. Mengandung antiseptik
4. Mampu meregenerasi sel – sel yang rusak.

3. Berwudhu

@hijapedia

Berwudhu dalam mandi besar sebenarnya merupakan hal yang sunnah, tetapi lebih kita lakukan karena berdasarkan hadist Rasulullah SAW yang intinya barang siapa yang membaguskan wudhu maka berjatuhan – jatuhan semua dosanya.

4. Menyiram Air Ke Seluruh Tubuh

@media.ihram.asia

Kemudian setelah kita berwudhu, siramkan air keseluruh tubuh. Dianjurkan untuk memulai terlebih dahulu tubuh bagian kanan, hal ini dikarenakan sesuai dengan sunah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW menyukai segala sesuatu yang dimulai dengan kanan seperti merapikan rambut, bersuci, memakai sepatu dan sebagainya.

Usahakan tidak ada bagian tubuh yang tidak terkena air khususnya daeah rawan seperti lubang dubur, rambur, kuku, ketiak, badan baguan belakang, sela jari kaki. Untuk pertama guyur air ke kepala dan gosok rambut kepala sampai air meresap ke seluruh bagian rambut.

5. Memakai Wewangian

@style.tribunnews

Berdasarkan sunah Rasulullah SAW disarankan agar menggunakan wewangian setelah selesai mandi wajib.

Larangan Saat Haid Menurut Islam

1. Dilarang Shalat Dan Puasa

Rasulullah bersabda dalam hadist shshih yang dikeluarkan syikhuna

Bukankan kalau si perempuan haid dia tidak shalat dan puasa? Itulah kekurangan agama si perempuan. (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari 1951 dan Muslim 79)

2. Tidak Mengqdha Shalat Yang Tertinggal Selama Haid

Dari Mu’adzah ia berkata ada seorang perempuan yang bertanya kepada Aisyah
‘Apakah kami perlu mengqadha shalat kami ketika sudah suci?’ ‘Aisyah menjawab, ‘Apakah engkau seorang haruri? Dahulu kami mengalami haid di masa Nabi saw. masih hidup, tapi beliau tidak memerintahkan kami mengqadha’ shalat. Atau ‘Aisyah berkata, ‘Kami pun tidak mengqadhanya.’ (HR. Bukhari 321)

3. Dilarang Berhubungna Badan ( jimak ) Dengan Suaminya

Baca Juga :  Contoh Proposal Pengajuan Kegiatan

Imam nawai pernah berkata di dalam al-Majmu’, 2 : 359
Kaum muslimin telah sepakat, haram hukumnya berhubungan badan dengan perempuan yang sedang haid berdasarkan hadits-hadits shahih.

Ibn Taimiyah juga di dakam Majmu’ al-Fatawa berkata
Berhubungan badan dengan perempuan nifas adalah sebagaimana hukumnya menyetubuhi perempuan haid; yaitu haram berdasarkan kesepakatan para ulama.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 222
Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari (hubungan intim dengan) perempuan di waktu haid.

4. Boleh Bercumbu Asal Tidak Bertemu Dua Kelamin

Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa di antara istri-istri Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang mengalami haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin bercumbu dengannya. lantas beliau memerintahkannya untuk memakai sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haid, kemudian beliau tetap mencumbunya (di atas sarung).
Aisyah berkata, ‘Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjima’) sebagaimana Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya?’ (HR. Bukhari no. 302 dan Muslim no. 293)

5. Dilarang Berthawaf Di Ka’bah

Ketika Aisyah ra. Haid saat haji, Rasulullah bersabda, yang diriwayarkan bukhari 305 dan Muslim 1211.

Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.

6. Dilarang Menyentuh Al- Quran

Al-Hakim dalam al-Mustadrak
Tidak boleh menyentuh al-Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.

7. Boleh Berzikir Dan Muraja’ah Hafalan Al-Quran Asal Tidak Menyentuhnya

Hal ini diperselisihkan diantara para ulama. Mencoba mengambil jalan tenagh ketidaktahuan kita tidak menjadi sesuatu yang membawa masalah, maka boleh mengambil pendapat ini.

Baca Juga :  Perbedaan Baptis Selam Dan Baptis Percik

Artikel Terkait : Manfaat Puasa Senin Kamis untuk Kesuksesan Dunia Akhirat

8. Tidak Dianjurkan Masuk Kedalam Masjid

Darah haid adalah najis, sedangkan masjid adalah tempat suci. Khawatir darah itu menetes di area Masjid, maka beberapa ulama melarang perempuan yang sedang haid untuk masuk ke dalam Masjid. Hendaknya mengambil pendapat ini untuk berjaga – jaga.

Dalil Tentang Mandi Besar

  • Dari Aisyah Radhiyallahu’anhu bahwasanya Asma’binti Syakal ra. Bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai mandi wajib :

Salah seorang di antara kalian (wanita) mengambil air dan sidrahnya (daun pohon bidara, atau boleh menggunakan sabun ) kemudian dia bersuci dan membaguskan bersucinya, kemudian dia menuangkan air di atas kepalanya lalu menggosok-gosokkannya dengan kuat,,,

sehingga air sampai pada kulit kepalanya. kemudian dia menyiramkan air ke seluruh badannya, lalu mengambil sepotong kain atau kapas yang diberi minyak wangi kasturi, kemudian dia bersuci dengannya….

Maka Asma’ berkata: ‘Bagaimana aku bersuci dengannya?’ Beliau bersabda: ‘Maha Suci Allah’ maka ‘Aisyah berkata kepada Asma’: ‘Engkau mengikuti (mengusap) bekas darah (dengan kain/kapas itu).’(HR. Muslim

  • Dari Aisyah ra. Ketika ada orang yang bertanya kepada Rasulullah tentang mandi haid

Hendaklah dia mengambil sepotong kapas atau kain yang diberi minyak wangi kemudian bersucilah dengannya. Wanita itu berkata: ‘Bagaimana caranya aku bersuci dengannya?.

Beliau bersabda: ‘Maha Suci Allah bersucilah!’. Maka Aisyah menarik wanita itu seraya berkata: ‘Ikutilah (usaplah) olehmu bekas darah itu dengannya (potongan kain atau kapas).

Related posts: