Latar Belakang Reformasi Gereja

Posted on

Denominasi adalah sebuah kelompok keagamaan yang bisa diidentifikasikan di bawah suatu nama atau struktur atau doktrin. Hal ini terjadi juga pada gereja Tuhan. Dimana di jaman modern sekarang ini banyak sekali denominasi gereja yang ada di dunia ini.

Mengapa denominasi gereja ini bisa terjadi? Mengapa tidak hanya ada satu gereja saja di dunia tanpa perlu ada dominasi? Sebab memang tak jarang juga bahwa denominasi gereja ini kerap menimbulkan perpecahan sebab karena adanya denominasi pada gereja yang berbeda-beda ini akan membuat tidak adanya persatuan dan kesatuan.

Pada hakikatnya memang benar hanya ada satu gereja pada mulanya. Yaitu kelahiran gereja yang pertama dimulai pada hari Pentakosta atau 40 hari setelah kenaikan Tuhan Yesus ke sorga. Namun kemudian di era modern di Eropa mulai terjadi reformasi gereja yang menyebabkan terpecahnya gereja dan umat Allah menjadi beberapa bagian.

Bagaimana sebenarnya kronologis yang melatarbelakangi reformasi gereja ini? Berikut akan saya berikan sedikit rangkuman informasi tentang reformasi gereja.

Latar Belakang Reformasi Gereja

@biokristi.sabda

Di abad ke 16, terjadilah gerakan reformasi di Eropa yang menentang tentang ajaran Katolik. Gerakan reformasi ini yang kemudian menghasilkan restorasionisme, anabaptisme, calvinisme, anglikanisme, serta lutheranisme yang kemudian digolongkan sebagai Protestanisme atau yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Kristen Protestan.

Yang mana protestanisme ini adalah sebuah ajaran atau paham yang mucul setelah protes dari Martin Luther yang tidak setuju akan adanya praktik penyalahgunaan oleh para pengkotbah yang menjual surat pengampunan dosa. Yang mana surat pengampunan dosa tersebut merupakan sebuah sertifikat yang dipercaya bisa mengurangi hukuman atau siksaan dosa temporal atas dosa-dosa yang dilakukan oleh umat yang membelinya atau orang yang mereka kasihi yang ada di dalam api penyucian.

Baca Juga :  Perbedaan Gereja Lutheran Dan Calvinis

Reformasi Gereja Di Eropa

@biography

Martin Luther menegaskan bahwa pertobatan yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus atas pengampunan dosa manusia ini bukan hanya merupakan sebuah pengakuan sakramental dari luar saja, namun juga melibatkan pertobatan rohani yang ada dalam diri seseorang tersebut. Yang mana berdasarkan pemikiran dan pendapat dari Martin Luther ini indulgensi atau pengakuan dosa ini seharusnya bukanlah hal yang harus diperjual belikan.

Martin Luther pun kemudian memasang beberapa tesis atau pendapat kritikannya terkait dengan indulgensi ini di pintu-pintu rumah rumah ibadah, yaitu di gereja-gereja Katolik Roma yang ada di Jerman. Martin Luther sebenarnya pada waktu itu tidak ingin membuat atau mendirikan sebuah gereja sendiri. Sebab tujuan Martin Luther yaitu adalah hanya ingin melakukan reformasi di dalam gereja.

@nashvillepublicradio

Karena akibat dari pendapat dan pemikirannya yang berbeda dari para pemimpin gereja yang ada saat itu, maka Martin Luther pun dianggap membawa ajaran yang sesat oleh para pemuka agama Katolik Roma. Hal inilah yang kemudian mendorong Martin Luther dan para pengikutnya untuk mendirikan sebuah gereja sendiri. Yang mana kemudian ajaran tersebutlah yang disebut dengan Protestanisme.

Gerakan reformasi gereja yang dilakukan oleh Martin Luther ini ternyata membawa dampak yang sangat dahsyat, yaitu salah satunya adalah melemahnya kekuasaan seorang Paus (pemimpin tertinggi di dalam gereja Katolik). Pada saat itu seorang Paus tidak hanya bertugas untuk memimpin gereja saja, namun mereka juga berhasil untuk membawahi dan menguasai banyak kerajaan di Eropa.

Yang mana berdasarkan pendapat dari Marthin Luther, gereja seharusnya mengakui kekuasaan para pemimpin negara. Gagasan inilah yang tentu saja mendapatkan dukungan penuh dari para penguasa negara di Eropa kala itu. Mereka menginginkan adanya pemisahan kekuasaan antara gereja dan negara.

Baca Juga :  5 Perbedaan Pentakosta dan HKBP Yang Kalian Harus Tau!

Perang Tiga Puluh Tahun

@wikiwand

Hal ini yang kemudian akhirnya mendorong peran negara menjadi sangat kuat karena telah melahirkan paham feodalisme, nasionalisme, dan separatisme. Hal ini jugalah yang kemudian menyebabkan kekuasaan gereja Katolik Roma mulai runtuh secara perlahan. Namun keinginan Martin Luther untuk melakukan reformasi pada gereja masih belum berhenti sampai disini, dimana ia menolak dan menentang anggapan bahwa Alkitab hanya boleh dibaca dan ditafsirkan oleh para rohaniawan atau ahli agama saja.

Yang mana menurut Martin Luther seluruh orang Katolik yang mengimani Katolik sebagai agamanya berhak untuk membaca Alkitab. Martin Luther kemudian menterjemahkan sendiri Alkitab ke dalam Bahasa Jerman.

Karena tindakan Martin Luther yang berani inilah kemudian meletus perang pada tahun 1618-1648 di Jerman dan Inggris antara kaum Katolik dan Protestan yang kemudian di kenal dengan nama Perang Tiga Puluh Tahun. Walaupun begitu, sebenarnya perang ini bukan hanya perang yang terjadi semata-mata karena agama saja, namun juga perang yang melibatkan banyak unsur politik dan kekuasaan di dalamnya.

Walaupun akhirnya perang tersebut telah usai dan berakhir namun konflik yang melatarbelakanginya tetap berlangsung hingga lama. Perang yang disebut dengan perang tiga puluh tahun ini terbagi dalam beberapa fase, yaitu seperti berikut :

1. Fase yang pertama yaitu adalah fase Bohemia (1618-1625) yang ditandai dengan perang saudara yang terjadi di wilayan Bohemia. Yang mana wilayah Bohemia ini sepenuhnya merupakan wilayah Katolik di bawah kekuasaan Ferdinand II

2. Fase yang kedua yaitu adalah fase Denmark (1625-1630). Yang mana Raja Christian IV dari Denmark ikut membela kaum Protestan melawan kaum Katolik. Namun ternyata Jenderal perang dari kubu Katolik bisa mengalahkan Raja Christian IV sehingga pihak Protestan mengalami kekalahan pada waktu itu

Baca Juga :  Sejarah Lahir dan Berdirinya Pramuka Dunia Di Indonesia

3. Fase yang ketiga yaitu adalah fase Swedia (1625-1635). Yang mana Raja Swedia yang bernama Gustavus Adolphus ini datang ke tanah Jerman

4. Fase yang keempat ini disebut dengan fase internaliosasi perang tiga puluh tahun. Hal ini karena bergabungnya negara Perancis, Belanda, Skotlandia, dan beberapa tentara lainnya yang disewa oleh raja-raja Protestan di Jerman untuk memperkuat pasukan serikat Protestan menghadapi kubu Katolik.

Pada akhirnya tidak ada pihak yang menang maupun yang kalah. Sebab kedua pihak sama-sama mengalami keterbatasan logistik. Situasi yang imbang inilah yang kemudian mendesak para penguasa di Eropa untuk membuat perjanjian dama. Dimana perjanjian damai ini dikenal dengan nama Perjanjian Westfalen yang dibuat pada 15 Mei – 24 Oktober 1948 di Jerman.

Selain Martin Luther, ada beberapa tokoh lain yang juga mempelopori reformasi gereja di Eropa. Diantaranya yaitu seperti John Calvin yang merupakan seorang ahli teologi dari Perancis, Urlich Zwingli yang menjadi pelopor reformasi gereja di Swiss, serta John Wesley yang merupakan tokoh teologi dari Inggris yang juga anak pendeta gereja Anglikan.

Related posts: