Cerita Perjalanan Prabu Siliwangi [Lengkap]

Posted on

Di dalam kebudayaan atau sejarah masyarakat Sunda, Prabu Siliwangi ini sangat dikenal sekali. Prabu Siliwangi merupakan salah seorang raja besar yang memerintah di kerajaan Pakuan Pajajaran yang berkuasa di wilayah sekitar Bogor dan Ciamis, Jawa Barat dan juga daerah kekuasannya yang melingkupi hampir seluruh wilayah Jawa Barat.

Sehingga tak heran bila cerita mengenai Prabu Siliwangi ini sangat melekat sekali di dalam sejarah masyarakat Sunda sejak jaman dahulu. Salah satu naskah yang menjelaskan tentang perjalanan dari Prabu Siliwangi ini yaitu adalah kitab Suwasit.

Kitab Suwasit ini ditulis di dalam bahasa Sunda Kuno pada selembar kulit macan putih yang ditemukan di desa Pajajar, Rajagaluh, Majalengka, Jawa Barat. Di dalam kitab Suwasit tersebut dikatakan bahwa Prabu Siliwangi merupakan seorang raja besar yang sangat bijaksana, arif, dan sakti mandraguna. Berikut akan saya berikan mengenai perjalanan dari Prabu Siliwangi ini.

Cerita Perjalanan Prabu Siliwangi

@belapendidikan

Prabu Siliwangi sejak kecil telah diasuh oleh Ki Gedeng Sindangkasih, yang merupakan seorang juru pelabuhan Muara Jati di Kerajaan Singapura (sebelum bernama kota Cirebon). Pada masa mudanya Prabu Siliwangi ini dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa.

Setelah Raden Pamanah atau Prabu Siliwangi ini beranjak dewasa dan memiliki cukup banyak ilmu yang diajarkan oleh Ki Gendeng Sindangkasih, maka ia kembali ke kerajaan Gajah untuk mengabdi kepada ayahnya yang bernama Prabu Angga Larang atau Dewa Niskala.

Kemudian setelah itu Prabu Siliwangi menikah dengan seorang putri Ki Gedeng Sindangkasih yang bernama Nyi Ambet Kasih. Pada waktu itu kerajaan Gajah yang diperintah oleh Prabu Angga Larang sedang berada di dalam masa puncak kejayaannya atau dalam masa keemasan.

Baca Juga :  Sejarah Kerajaan Mataram Kuno [Raja dan Peninggalan]

Dimana wilayah kekuasaan dari Kerajaan Gajah ini terbentang luas dari Sungai Citarum di wilayah Karawang yang berbatasan langsung dengan Kerajaan Sunda, hingga ke wilayah Sungai Cipamali yang berbatasan dengan wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit. Pada suatu hari ayah Prabu Siliwangi atau yang bernama Prabu Angga Larang yang merupakan pimpinan kerajaan Gajah ini menjadi sangat geram.

Hal ini karena banyak rakyat atau penduduknya yang di wilayah Muara Jati yang beragama Hindu ini pindah ke agama baru yang di bawa oleh seorang ulama yang berasal dari negeri Campa (Kamboja) yang bernama Syekh Quro. Agama tersebut bernama Islam.

Kemudian sang Prabu Angga Larang mengutus beberapa orang kepercayaannya untuk mengusir sang ulama tersebut dari wilayah tanah kekuasaan Prabu Angga Larang. Para utusan dari Prabu Angga Larang pun kemudian menyampaikan perintah dari Raja Prabu Angga Larang ini kepada syech Quro agar penyebaran agama Islam di Muara Jati dihentikan saat itu juga.

Dan Syeh Quro mematuhi perintah dari Raja Gajah tersebut. Dan kemudian ia pamit kepada Ki Gendeng untuk kembali ke negeri Campa. Dan Ki Gendeng menitipkan puterinya yang bernama Nyi Mas Subang Larang untuk ikut dengan Syeh Quro ini belajar agama ke negeri Campa.

Sebagai seorang putra kerajaan Prabu Siliwangi ini sangat tidak betah sekali untuk tinggal diam di dalam istana saja. Kemudian Prabu Siliwangi ini pun kerap mengembara dengan menyamar menjadi rakyat biasa dari satu daerah ke daerah yang lainnya.

Ia kerap menolong orang yang kesusahan dan juga memberantas kejahatan yang terjadi. Prabu Siliwangi juga suka untuk bertapa dan mencari kesaktian. Suatu ketika saat Prabu Siliwangi sedang mengembara, saat ia akan beristirahat di sebuah curug atau air terjun yang bernama curug Sawer ini tiba Рtiba Prabu Siliwangi dihadang oleh  oleh siluman harimau putih.

Baca Juga :  Ciri-Ciri Zaman Paleolitikum Serta Peninggalan Zaman Batu

Dan pertempuran pun tak dapat terhindarkan antara Prabu Siliwangi dan Siluman Harimau Putih itu. Keduanya dikenal memiliki kekuatan yang sangat sakti dan tak tertandingi, sehingga pertempuran atau perkelahian antara Prabu Siliwangi dan siluman harimau putih ini berlangsung cukup sengit.

Hingga akhirnya Prabu Siliwangi dapat memenangkan perkelahian ini dan sang siluman harimau putih dapat dikalahkan oleh Prabu Siliwangi. Kemudian sang siluman harimau putih tadi memberikan sebuah pusaka yang terbuat dari kulit macan kepada Prabu Siliwangi.

Dengan pusaka tersebut Prabu Siliwangi bisa terbang seperti burung, menghilang, berjalan secepat angin, dan dapat mendatangkan bala tentara jin. Kemudian harimau putih tersebut memutuskan untuk mengabdi kepada prabu Siliwangi dan menjadi pendampingnya.

Tunduknya Siluman Harimau Putih

@boombastis

Dengan tunduknya raja siluman harimau putih ini, maka siluman harimau putih yang lainnya pun akhirnya juga tunduk dan menjadi pasukan dan pengikut setia dari Prabu Siliwangi ini. Para pasukan siluman harimau putih inilah yang kemudian membantu Prabu Siliwangi dalam berperang melawan kerajaan – kerajaan yang memeranginya dan menundukkannya di bawah kekuasaannya.

Karena jasanya yang begitu besar pada kerajaan Gajah ini, maka kemudian diangkatlah Prabu Siliwangi ini sebagai raja kedua di kerajaan tersebut. Dan kemudian Prabu Siliwangi pun mengubah nama kerajaannya ini dengan nama kerajaan Pajajaran. Yang mana merupakan penggabungan antara nama kerajaan Gajah dengan kerajaan Harimau Putih.

Beberapa tahun kemudian Syekh Quro ini datang kembali ke negeri Pajajaran dengan para rombongan santrinya, yang termasuk juga dengan Nyi Mas Subang Larang. Rombongan Syekh Quro ini kemudian singgah di pelabuhan Karawang dan karena mereka sangat menjunjung tinggi peraturan di wilayah tersebut maka akhirnya mereka diijinkan untuk mendirikan sebuah mushola sebagai sarana untuk mereka beribadah sekaligus juga menjadi tempat tinggal dari rombongan Syekh Quro waktu itu.

Baca Juga :  Misteri Pembunuh Berantai Dari Zodiac Killer

Kemudian Prabu Siliwangi berniat untuk menutup pondok pesantren yang di dirikan oleh kelompok Syekh Quro tersebut. Namun saat tiba di tempat pondok pesantren tersebut tiba – tiba hati Prabu Siliwangi merasa tertambat karena alunan suara ayat – ayat Al-Quran yang dilantunkan oleh Nyi Subang Larang.

Kemudian Prabu Siliwangi merasa jatuh cinta pada Nyi Subang Larang dan mengurungkan niatnya untuk menutup pondok pesantren tersebut. Prabu Siliwangi pun berniat untuk menikahi Nyi Subang Larang, tapi dengan syarat yaitu Prabu Siliwngi harus masuk ke dalam agama Islam dan meninggalkan kepercayaannya yang dahulu.

Kemudian Prabu Siliwangi pun akhirnya bersedia untuk masuk Islam. Dan akhirnya Prabu Siliwangi menikah dengan Nyi Subang Larang dan mereka di karunia 3 orang anak. Ketiga putra dari Prabu Siliwangi dan Nyi Subang Larang ini adalah Raden Walangsungsang (Kian Santang), Nyi Mas Rara Santang, dan Raja Sangara. Kemudian setelah itu Prabu Siliwangi pun dikenal sebagai seorang raja yang sangat mencintai rakyatnya dan berpihak kepada rakyatnya.

Related posts: