3 Fakta Tersembunyi Dibalik Keruntuhan Kerajaan Majapahit

Posted on

Kerajaan Majapahit merupakan sebuah kerajaan yang terbesar dan cukup terkenal di dalam sejarah kerajaan-kerajaan yang ada di wilayah nusantara pada jaman Hindu-Budha. Wilayah kekuasaannya membentang luas mulai dari ujung utara pulau Sumatera hingga sampai ke tanah Papua di timur, bahkan wilayah Malaka yang saat ini dikenal dengan Malaysia hingga ke wilayah Filipina juga menjadi wilayah kekuasaan dari kerajaan Majapahit ini.

Sejarah Runtuhnya Kerajaan Majapahit

@youtube

Kerajaan Majapahit ini didirikan pada tahun 1293 Masehi oleh Raden Wijaya, yang kemudian memerintah menjadi raja yang pertama di kerajaan Majapahit. Puncak kejayaan kerajaan Majapahit terjadi pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk dengan mahapatihnya Gajah Mada pada tahun 1350-1389 Masehi. Namun seiring berjalannya waktu kerajaan Majapahit pun mengalami kemunduran yang sangat signifikan, hingga akhirnya kerajaan Majapahit runtuh hingga tak tersisa lagi pemerintahannya di Nusantara.

Dibalik keruntuhan kerajaan Majapahit terdapat beberapa fakta menarik yang tersembunyi, dan inilah beberapa fakta yang tersembunyi dari runtuhnya kerajaan Majapahit tersebut.

Fakta Dibalik Keruntuhan Majapahit

  • Masuknya Agama Islam

Sebelum tahun 1450, agama Islam sudah mulai masuk ke dalam wilayah kerajaan Majapahit. Jatuhnya kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa salah satunya kerajaan Majapahit dikaitkan dengan intrik di dalam keluarga raja karena ada fakta yang mengatakan bahwa putra raja, Raden Patah masuk Islam.

Artikel Terkait : Tata Cara Penulisan Daftar Pustaka

Tidak seperti pemimpin-pemimpin Hindu, para misionaris Islam ini mendorong kekuatan militer untuk memperkuat kesempatan mereka dalam menyebarkan agama Islam. Di wilayah kerajaan-kerajaan Jawa pemberontakan yang terjadi di dalam keluarga raja-raja digerakkan oleh tekanan militer Islam. Saat para bangsawan ini berpindah keyakinan maka para rakyat akan mengikutinya.

Kedatangan Islam di wilayah Jawa dimulai di wilayah Gresik dan wilayah pantai utara Jawa lainnya. Dimana waktu itu sekitar tahun 1350, pada saat puncak kejayaan dari pemerintahan kerajaan Majapahit banyak para pedagang Islam yang berasal dari India dan wilayah Samudera Pasai yang berdatangan ke wilayah pesisir pantai utara pulau Jawa seperti wilayah Gresik dan Tuban yang berdagang dan ingin menyebarkan agama Islam di wilayah pulau Jawa.

Namun waktu itu kerajaan Majapahit masih memberikan toleransi kepada masuknya pedagang Islam di wilayah kekuasaannya. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya makam Islam yang ada di desa Tralaya yang menjadi pusat kota dari wilayah kerajaan Majapahit saat itu.

Tapi seiring berjalannya waktu secara perlahan agama Islam mulai masuk ke dalam kerajaan Majapahit dan banyak menimbulkan perang saudara dan pemberontakan di dalam kerajaan Majapahit antar ulama penyebar agama Islam dan rakyat Majapahit yang menolak Islam. Hal ini menjadi salah satu faktor dan penyebab mulai mundurnya kekuasaan dan pengaruh kerajaan Majapahit.

  • Perang Majapahit dan Demak
@musabab

Menurut babad dan serat perang antara Majapahit dan Demak hanya terjadi sekali yaitu pada tahun 1478. Perang ini dikenal sebagai perang Sudarma Wisuta, yang memiliki arti yaitu perang antara ayah melawan anak, yaitu antara Brawijaya melawan Raden Patah.

Perang antara Majapahit dan Demak ini dimulai dari pergerakan pasukan-pasukan Islam yang ada di wilayah pesisir utara Jawa yang ingin menguasai seluruh wilayah Jawa. Pergerakan ini salah satunya dipimpin oleh Raden Patah, putra raja Brawijaya. Namun Brawijaya masih belum percaya bahwa putranya memiliki pemikiran seperti itu.

Keadaan diseluruh Jawa menjadi gempar dan para pejabat daerah kalang kabut menghadapi ini karena mereka tidak menyangka bahwa orang-orang Islam akan sedemikian banyaknya. Dan Brawijaya mendapat berita yang mencengangkan bahwa telah terjadi pergerakan pasukan Islam dari Demak Bintara menuju ke ibukota kerajaan Majapahit. Tapi sekali lagi prabu Brawijaya masih tidak mempercayai hal ini. Pikirnya mana mungkin orang-orang Islam berani dan tega mengadakan pemberontakan padahal selama ini kerajan Majapahit sangat membantu banyak materi kepada orang-orang Islam ini.

Prabu Brawijaya pun akhirnya segera menyiapkan seluruh pasukan Majapahit untuk menghadapi sebuah perang besar. Dengan sangat terpaksa, sang Prabu Brawijaya akhirnya mengeluarkan perintah penyerangan untuk melawan pasukan Demak yang dipimpin oleh anaknya yaitu Raden Patah. Akhirnya pecahlah peperangan besar antara Majapahit melawan Demak.

Akhirnya pasukan Demak dapat dipukul mundur oleh pasukan Brawijaya. Namun pasukan Demak masih bertahan hingga beberapa minggu kemudian datanglah pasukan dari Palembang yang bergabung dengan pasukan Majapahit. Namun ternyata bergabungnya pasukan Palembang dengan Majapahit ini hanya merupakan sebuah siasat dari Demak untuk menghancurkan Majapahit dari dalam.

Keadaan pasukan Majapahit semakin terpukul mundur karena hal ini. Persediaan bahan pangan dan lumbung miliki pasukan Majapahit semuanya dibakar dan dihabiskan oleh pasukan dari Palembang ini. Pasukan Majapahit pun akhirnya terpukul mundur. Mendengar pasukan Majapahit terpukul mundur, sang Prabu Brawijaya pun segera keluar dari istana dan menyelamatkan diri ke pulau Bali yang saat itu dinilai cukup kondusif wilayahnya.

Akhirnya pusat kerajaan Majapahit pun dapat dijebol dan dibakar oleh para pasukan Demak. Semua peninggalan Majapahit saat itu dibakar habis-habisan oleh pasukan Demak hingga tidak menyisakan apa-apa. Perang terjadi dimana-mana yang melibatkan kekuatan militer Majapahit dan Demak. Masyarakat Majapahit yang masih memegang teguh kepercayaan lama mereka berhadapan dengan mereka pasukan Demak yang dulunya adalah juga bagian dari rakyat Majapahit yang sudah berpindah keyakinan.

Pulau Jawa sedang dalam kondisi darurat saat itu. Pertempuran terjadi dimana-mana, perpecahan dan pertumpahan darah tak dapat terelakkan. Hingga akhirnya Majapahit yang dikenal sebagai Macan Asia waktu itu pun ludes dibabat habis oleh seluruh pasukan Islam Demak. Banyak bangunan-bangunan indah dari kerajaan Majpahit yang dimusnahkan dalam pertempuran ini dan hanya sedikit saja yang tersisa yang dapat disaksikan hingga sekarang.

Sementara itu para agamawan, para bangsawan dan rakyat-rakyat yang masih tetap memegang teguh keyakinan lama mereka menyingkir ke tempt yang dirasa lebih aman. Kebanyakan dari mereka menyeberang ke wilayah Bali, Lombok dan Kalimantan.

  • SIRNA HILANG KERTANING BUMI

Pada jaman dahulu, rakyat Jawa memiliki kalendernya sendiri yang disebut dengan kalender Cakra Sengkala. Hal ini juga menjelaskan tentang runtuhnya kerajaan Majapahit yaitu sengkala yang berbunyi “Sirna Hilang Kertaning Bumi”. Sirna bermakna nol atau kosong, hilang berarti nol, kertaning berarti empat, bumi bermakna satu. Sehingga bisa kita lihat dengan angka 0041. Untuk membacanya harus kita balik menjadi 1400. Dan dalam masehi kita harus menambahkannya dengan angka 78, sehingga akan menghasilkan 1478 dimana merupakan tahun kejatuhan Majapahit.

Artikel Terkait : 7 Langkah Membuat Paspor Secara Online

Baca Juga :  Contoh Sublimasi, Tujuan dan Penjelasan Lengkapnya [+Gambar]

Sejak tahun Sirna Hilang Kertaning Bumi (1400 saka) kejayaan bangsa Majapahit mulai luntur dan banyak bangsa asing yang mulai berdatangan menguasai berbagai macam aspek yang ada. Demikianlah pada tahun 1478 kerajaan Majapahit hancur tak bersisa sebagai sebuah kerajaan penguasa nusantara waktu itu dan berubah menjadi daerah taklukan kerajaaan Demak. Sehingga berakhir pulalah rangkaian penguasaan raja-raja Hindu di wilayah Jawa Timur.

Pada tahun 1522 Majapahit tak lagi disebut sebagai kerajaan, melainkan sebagai nama sebuah kota. Pemerintahan di pulau Jawa sudah berpindah ke Demak dibawah kepemimpinan Pati Unus, putra dari Raden Patah.

Ternyata keruntuhan kerajaan Majapahit menyimpan berbagai macam fakta rahasia yang tersembunyi yang sangat menarik untuk dipelajari.

Related posts: